Tokied4airi’s Blog











Amarah Yang Menutup Jiwa
Oleh : Aini Shofwatil Lamma’ah

Manusia diciptakan Allah dari tanah dan ruh, hal ini mengindikasikan bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani yang dilambangkan dengan tanah dan ruh. Keduanya nampak sebagai kutub yang saling bertolak belakang. Dengan demikian dalam diri manusia terdapat dua kemungkinan, yakni manusia dapat meraih derajat yang serendah-rendahnya seperti tanah dan mungkin pula meraih derajat yang setinggi-tingginya, sesuai dengan esensi ruh yang terkandung di dalam dirinya . Ada empat unsur keruhanian manusia yang dipaparkan dalam Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali, yakni kalbu(qalb), ruh(al-ruh), akal(al-aql), dan nafs(an-Nafs) .
An-nafs sendiri digolongkan menjadi tiga, yakni , pertama, nafsu amarah yang mengumbar dan tunduk sepenuhnya pada keinginan-keinginan yang rendah. Kedua, nafsu lawwamah yang apabila seseorang melakukan suatu kesalahan, maka ia akan segera bertaubat dan menyesali perbuatannya serta berusaha untuk senantiasa berbuat baik. Ketiga, nafsu muthmainnah yang dengannya jiwa manusia menjadi suci, lembut dan tenang dan mendapat keridlaan dari Yang Maha Penyayang, Allah SWT .
Sebagai manusia biasa, penulis hanyalah manusia yang masih dipenuhi dengan nafsu yang belum sampai pada derajat muthmainnah, dalam perjalanan kehidupannya, penulis masih selalu dihinggapi oleh berbagai perasaaan yang dapat menjauhkan diri penulis dari keridlaan Allah SWT. Bahkan nafsu tersebut sempat menutup hati penulis sehingga tidak lagi mempercayai keberadaan rahmat dari Allah SWT. Nafsu tersebut yang dinamakan oleh penulis sebagai ‘kutukan’ adalah kemarahan.
Menurut Sayyid Muhammad Nuh, seperti yang dikutip oleh Admin, amarah memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah tidak rela terhadap sesuatu dan iri dari sesuatu, menggigit sesuatu, muram, bengkak, murung dalam pergaulan dan perilaku, penghalang yang terbuat dari kulit unta, serta berasal dari kata ‘al-ghaizh’ yakni kemarahan yang mendalam. Pengertian marah yang dialami oleh penulis, merupakan pengertian yang pertama dan terakhir, yakni tidak rela terhadap sesuatu dan kemarahan yang mendalam.Adapun penyebabnya adalah datangnya cobaan yang bertubi-tubi dari Allah terhadap penulis.
Berawal ketika penulis berada di tahun kedua bangku aliyah (pertengahan 2007), penulis yang dari dulu jarang sekali sakit, tiba-tiba sering sekali mengalami mimisan dan itu berlajut berulang kali karena penulis pikir, tidak berefek pada kesehatan penulis, hal ini menjadi masalah ketika orang tua penulis mengetahuinya. Penulis segera diperiksakan ke dokter specialist, setelah beberapa kali chek up dan sembuh, penulis kembali merasakan keanehan pada telinga yang tiba-tiba saja sakit dan membengkak, dilakukan kembali chek up ke dokter spesialis.Memasuki awal ramadhan, penulis kembali mendapatkan cobaan dengan penyakit lain, bronchitis yang mengharuskan penulis menelan berbagai obat sebagai usaha penyembuhan. Penulis masih dapat bersabar meski sering sekali bertanya apakah yang sedang menimpa penulis dan apa kehendak Allah atas diri penulis, penulis percaya bahwa Allah tak mungkin meninggalkan hamba-Nya yang amat membutuhkan-Nya.
Belum penyakit bronchitis penulis sembuh memasuki bulan syawwal, penulis kembali dikejutkan pada kenyataan bahwa penulis terkena penyakit paru-paru kelenjar getah bening yang mengharuskan kembali penulis meminum bermacam-macam obat untuk jangka waktu berbulan-bulan. Waktu yang ditargetkan oleh para dokter spesialis adalah tujuh bulan. Dalam waktu yang relative lama tersebut, orang tua penulis senantiasa memberikan perhatian lebih kepada penulis sehingga penulis masih dapat bertahan dan bersabar dengan cobaan yang dihadapkan oleh Allah.
Ternyata perkiraan waktu yang ditargetkan para dokter tersebut meleset, lebih dari dua bulan, penulis mulai merasa jenuh dengan obat-obatan tersebut. Penulis mulai mempertanyakan arti keberadaan diri penulis dan melihat kenyataan bahwa penulis tidaklah sama dengan anak-anak yang lain, yang dapat bebas melakukan apapun yang disukainya. Penulis mulai marah, marah pada diri sendiri yang merasa amatlah tidak berguna, hanya menyulitkan orang lain dan menjadi beban bagi orang tua, penulis mulai suka menyendiri dan mengutuki nasib yang digariskan Allah. Penulis tidak rela atas keadaan diri yang menurut orang lain menyedihkan. Penulis mulai jenuh dan putus asa, setiap kali melihat obat, merasa mual dan ingin segera membuangnya. Hingga akhirnya penulis tidak mempunyai lagi semangat untuk sembuh, penulis hanya merasa tubuhnya sebagai tempat pembuangan obat, juga sering merasa malu ketika seseorang mempergoki penulis sedang mengkonsumsi obat.
Disinilah penulis merasa Tuhan tidak adil, perasaan marah yang menutup hati penulis sangat kuat, bahkan penulis tak hanya marah pada diri sendiri, melainkan juga Tuhan. Mungkin benar apa yang di katakan oleh Jmabuka pada majalah Nikah Vol. 6 No. 3 Juni 2007, bahwa marah disebabkan oleh harga diri yang rusak dan harapan yang tidak terwujud. Tujuan kemarahan sendiri adalah menyempurnakan tujuan atau menyalahkan orang lain terhadap kekurangan kita.
Kemarahan penulis telah menutup kesadaran jiwa dan disebabkan oleh perasaan rendah diri karena tidak sama dengan yang lain, serta pupusnya harapan penulis untuk sembuh, sehingga penulis malah menyalahkan Tuhan atas ketidakmampuan penulis untuk bersabar dan tawakal menghadapi penyakit yang datang bertubi-tubi.Selama ini, penulis selalu merasa sendiri dan tidak dicintai oleh siapapun. Namun, pada akhirnya penulis sadar, bahwa masih banyak orang yang membutuhkan dan mencintai penulis.
Malam itu, entah sudah obat keberapa butir yang masuk dalam tubuh penulis, penulis sudah tidak mampu lagi menghitungnya. Pada bulan ke-10 berobat, penulis mendengar keluh kesah orang tua penulis di tengah malam, mereka sangat sedih melihat keadaan penulis yang begitu putus asa dan beberapa kali menolak untuk meminum obat kalau tidak dipaksa dengan kekerasan. Penulis yang mendengarnya, langsung menangis sejadi-jadinya di kamar. Penulis tersadar, bahwa selama ini penulis terlalu egois dan selalu mengecewakan orang tua yang begitu menyayangi penulis. Pada saat itu juga, penulis menyadari kekeliruannya bahwa Allah bukannya tidak menyayangi penulis, melainkan, ingin menunjukkan kepada penulis bahwa banyak sekali orang-orang yang mencintai dan membutuhkan penulis, dan bahwa jiwa penulis amatlah berharga untuk disia-siakan. Penulis begitu bersyukur dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah penulis, bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya
Penulis merasa begitu dekat dengan Allah dan merasa bahwa Allah begitu mencintai hamba-Nya. Tidak ada makhluk yang tidak mendapatkan rahman-Nya, karena Allah adalah Maha Penyayang, seperti yang termaktub dalam surat Al-Fatihah:
            
Dengan demikian mata hati penulis yang dahulu tertutup oleh api amarah, kini telah terbuka. Sekarang penulis senantiasa menghadapi kehidupan dengan penuh semangat dan rasa syukur. Setelah satu tahun lebih, yakni 14 bulan. Akhirnya, penulis dinyatakan sembuh dari penyakit yang selama ini diderita, sehingga bertambahlah rasa syukur penulis kepada Allah dan kecintaan terhadap-Nya. Karena dalam setiap nafas yang dihirup oleh penulis, selalu dirasakan sebagai pelukan hangat tangan Allah, dan bersamaan dengan itu, penulis merasakan seluruh makhluk ciptaan-Nya bertasbih bersama untuk Sang Ilahi Rabbi.
Dari hal tersebut, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa kemarahan dapat memicu perbuatan-perbuatan negative yang dapat mengakibatkan perilaku tak terkendali serta gangguan pada jiwa. Amarah yang berlebihan telah membuat penulis tidak menyadari keberadaan Allah di samping penulis, sehingga akhirnya penulis tersadar dan menyesali segala kekhilafannya.dan bahwa buah kesabaran, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, adalah manis.
Penulis berharap tidak ada lagi manusia yang terperdaya oleh amarah, karena amarah hanya akan membuat seorang hamba menjadi begitu rendah dihadapan Allah, apalagi kemarahan itu begitu besar, sehingga dapat menjerumuskan kita kepada kekufuran.Kemarahan wajar ada dalam diri manusia, tetapi ia menjadi tidak wajar apabila telah melebihi batas.
Kita harus ingat bahwa tauladan kita, Nabi Muhammad tidak pernah marah kepada kaum Quraisy yang menindas beliau dan orang muslim, ketika seorang sahabat Rasulullah meminta nasehat kepada beliau, lalu nabi bersabda “janganlah kamu marah”, dan suatu ketika nabi juga pernah bertanya kepada sahabatnya, “siapakah orang yang paling kuat diantara kamu sekalian?”, sahabat memberikan berbagai jawaban, kemudian Nabi bersabda “bukanlah orang yang kuat itu dengan banyak berperang, bahwasanya yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah”.
Ada beberapa obat marah yang ditawarkan oleh islam, seperti ;
1. Senantiasa mengingat Allah
2. Meminta nasehat kepada orang bijak, Nabi pernah bersabda “apabila kamu merasa marah, maka hiruplah air, dan biarlkan air itu di dalam mulutmu sehingga kemarahanmu reda”
3. Seringlah membaca ta’awwudz.
4. Duduk atau berbaringlah.
5. Bandingkan kemurkaan Allah dan murka makhlukNya, ingatlah murka Allah.
6. Berusahalah untuk selalu memaafkan diri sendiri dan orang lain.
7. Berwudlu dan sholat sunnah, dll.
Sebagai makhluk, kita semua haruslah ingat bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara dan kita tidak mempunyai kuasa apapun untuk mengumbar amarah. Allah dan rasul-Nya senantiasa menganjurkan kita agar terus bersabar menghadapi cobaan.karena Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar. Seperti firman-Nya:
       •    
Dan manusia yang beruntung adalah manusia yang dapat menyadari kekeliruannya dan segera bertaubat. Dan buah dari kesabaran itu amatlah manis.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Imam, Ihya Ulumuddin, Terj. Tk. H. Ismail Ya’qub, SH,MA “ Ihya Al-Ghazali”.(Libya: CV. Faizan, 1984) , Jil.IV, Cet.VI
Bastaman,Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dengan Islam,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1997), Cet. II
Admin, Psikologi Marah, http://www.kampusislam.com
Hasan,Zulina Marah Cetuskan Konflik dan Peperangan, http://www.islam.gov.my
Jmabuka, Mengapa Marah Dapat Terjadi?.html//www.jmabuka.com
.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: