Tokied4airi’s Blog











Judul : Hati, Diri,& Jiwa: Psikologi Sufi Untuk Transformasi
Penulis : Robert Frager, Ph. D.
Penerjemah : Hasyimiyah Rauf
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Edisi :Soft Cover; Cetakan III
Ramadhan 1426 H/ Oktober 2005 M
Halaman :314 hlm

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dibidang psikologi, khususnya perkembangan psikologi barat yang mulai meninggalkan aspek spiritual manusia menuju asumsi penalaran logis dan menafikan keimanan sebagai wujud pencapaian puncak tujuan hidup manusia menjadi latar belakang ditulisnya buku ini.
Penafian akan tujuan diciptakannya segala hal didunia ini, pengakuan terhadap ego dan penyembahan terhadap pengetahuan yang logis dan rasional menggiring manusia menjadi makhluk kering dan melupakan hakikat penciptaannya. Hal ini bertentangan dengan ajaran tasawuf para sufi yang mengakui bahwa keimanan adalah suatu wujud keyakinan akan kebenaran yang transenden dibalik segala hal yang bersifat materialistis dan kecerdasan akal manusia hanya sebagian kecil dari kecerdasan yang lebih tinggi lainnya, yang hanya dapat dikembangkan melalui amalan-amalan yang membawa kepada kebenaran spiritual dan makna kehidupan.
Hal ini telah disadari pada abad modern ini. Banyak sekali ilmuwan, pengusaha sukses dan cendikiawan mulai merasa kosong dengan hal-hal yang telah diperbuat selama ini. Tentu saja hal ini membuat manusia kehilangan gairah kehidupan dan merasa kosong, tak bermakna sehingga tidak lagi mengenal keagungan Tuhan. Diperlukan lebih dari suatu transformasi diri untuk membentuk manusia yang utuh kembali. Psikologi sufi merupakan suatu kebutuhan yang mutlak atas dimensi spiritualitas manusia tersebut.
Untuk itu, diperlukan suatu penataan ulang hati, diri dan jiwa manusia agar mencapai suatu keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan. Hati sebagai pemimpin atau raja haruslah arif dan cerdas, ia harus dapat menyingkap tabir keakuan karena ia merupakan kuil Tuhan dan rumah cinta.
Sedangkan diri atau nafs, sebagai suatu kota haruslah berjalan secara selaras dengan mematuhi kehendak sang raja, yakni hati. Karena dengan inilah, ia tidak akan menjadi musuh bagi kehidupan, melainkan akan menjadi teman yang sangat menguntungkan bagi manusia. Karena ia tidak dapat memegang kendali yang akan menghancurkan manusia.
Keselarasan antara hati dan nafs tidaklah lengkap tanpa adanya kondisi jiwa yang seimbang, masing-masing dari jiwa haruslah terpenuhi kebutuhannya secara wajar. Keseimbangan tersebut dapat memberikan kesehatan, pertumbuhan yang seimbang serta kehidupan yang bermakna.
Transformasi diri ini dapat dicapai melalui berbagai terapi psikologi spiritual, seperti puasa, ‘uzlah, berperilaku baik, melayani orang lain dengan perasaan tulus, berdzikir serta ingat akan datangnya kematian yang dilakukan secara kontinu. Tentu hal ini tidak dicapai begitu saja, dibutuhkan seorang pembimbing, dalam hal ini syekh, yang dapat mengajarkan muridnya agar mendekat untuk menyadari sifat batiniahnya melalui pemahaman personal dan kearifan sang syekh.
Buku “ Hati, Diri, & jiwa: Psikologi Sufi Untuk Transformasi”, karya Robert Frager yang diterjemakan oleh Hasyimiyah Rauf ini merupakan sebuah panduan untuk mentransformasikan diri menuju insan ilahiah.
Buku ini mampu memperlihatkan sisi lain dari tasawuf- psikologi sufi- yang bersumber pada kearifan dan kecerdasan spiritual untuk menjadi manusia yang utuh. Robert Frager mampu mengemas tasawuf sebagai budaya keislaman kuno menjadi hal baru yang asyik untuk dikaji. Tasawuf bukan lagi melulu hal yang sulit untuk dimengerti dan abstrak, tetapi telah menjadi suatu hal yang telah menyatu dengan kehidupan modern sekarang ini. Hal ini telah terbukti dengan berkembangnya kelompok-kelompok spiritual yang ada di berbagai negara. Dengan bahasa yang sederhana, dia mampu mengkomunikasikan dengan jelas makna dibalik pembahasan tersebut melalui cerita-cerita sufistik yang sarat dengan hikmah dan nilai-nilai spirituil.
Sebagai kritik, pada pendahuluan, penulis lebih cenderung untuk mengungkapkan pengalaman spriritualnya daripada isi buku tersebut. Akan tetapi hal ini dapat diimbangi dengan adanya pembahasan pertama yang mengemas tentang aspek-aspek utama yang dibahas dalam buku tersebut. Yakni tentang hati, diri dan jiwa.
Robert Frager atau Syekh Ragib Al-Jerahi, selain seorang mursyid sufi, beliau juga seorang profesor psikologi pada sebuah institute of Transpersonal Psychology di California.
(Aini Shofwatil Lamma’ah, mahasiswi semester II Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah, Program Studi Perbankan Syari’ah dengan NIM. 08.21.00004, Waturoyo, Margoyoso, Pati)



{Oktober 21, 2009}   my special day…

Ada bintang…
Ia bersinar dengan cemerlang.
Bersanding dengan bintang-bintang lainnya.
Ia bintang yang terang dengan kerlipnya yang memukau.
Tak pernah sadari behwa cahaya jua kan redup, kejayaan akan hilang dan kehampaan akan terhempas.
Suatu saat, ia akan menjadi bintang pualam hitam yang tak lagi bersinar, tak lagi berjaya dan mati.
Warnanya memudar bersamaan dengan usianya yang merenta dan perlahan akan hilang dari jagad raya.
Namun, setiap bintang mempunyai kisahnya sendiri dan mempunyai kisah yang kan trus dikenang.
Lalu…
Akankah manusai kerdil seperti aku, yang picik dan egois, dapat mempunyai arti dan dikenang sepanjang masa????



{Juni 18, 2009}   aku dan bintang

Pancaran itu lembut mendorongku tuk tersadar.
Jangkauanku terlalu jauh darinya….
Ya robb….
Hanya Engkau pelipur jiwaku.
Redamkan gejolak yang mengamuk dan membakar kesadaran ini.
Sadarkan aku akan tempatku di dunia ini, paling tidak aku hanya ingin sedikit menjauh dari belenggu keindahannya yang menyilaukan.
Ya Robb…
Jika cinta ini salah, mengapa Engkau menciptakannya di diri hamba?
Hamba hanya tak ingini hal yang mustahil untuk hamba ketahui.
Hamba terlalu pengecut untuk mengakui, terlalu takut untuk mengetahui realitas yang ada…
Permintaan hati ini hanya satu…
Ku mohon, dengarkan jeritan kalbu ini…
Jiwa ini terlalu berat menerima perih, terlalu sakit untuk dianiaya kembali oleh kesunyian…
Lagi-lagi ini terjadi, tanpa dapat ku membendungnya. Cinta ini menjauhkanku dari realita…dari nyata, menyeretku kembali ke alam bawah sadarku…



Ada sesuatu yang menghampa ketika hati ini tak jua berhenti bertanya, tentang hakikat ketulusan yang selama ini terus dicarinya.
Sahabat….
Ia ragu apa ini akan menjadi sedikit berarti tanpa penyesalan yang kan meruntuhkan diri.
Ia bimbang dalam ragu dan malunya.
Ia resah dalam diam dan bisunya.
Ia menjadi kosong ketika sadar akan jarak yang jauh memisahkan…
Aku, sahabat…
Adakah itu untukku???
Adakah yang benar-benar ingin menjadi sahabat yang membebat seluruh keraguanku?.
Akankah ada ia membuktikan padaku bahwa dunia tak hanya dikuasai oleh kebencian dan murka yang menghancurkan segala…
Sahabat…
Adakah ia mengembalikan seluruh rasa yang ada dalam diri ini?
Kepercayaan yang menghilang karena tuduhan kecurigaan.
Kepercayaan yang tak lagi aku percayai.
Adakah sahabat itu untukku???
Yang menyepuh semua dukaku.
Yang menghalau semua cemasku.
Adakah ia untukku?
Menyata dalam kehidupanku.
Dengan ketulusan dan setia yang menemukan makna
Dengan senyum dan ceria yang memberikan cinta.
Adakah ia tanpa maksud
Berjalan denganku, dengan segala percayaku???



{Juni 18, 2009}   aku dan teriakku

Berkaca…
Hingga indah membalai raga, hingga seulas senyum menyapa, bertanya pada nyawa saat tiada.
Indah…
Dalam pantulan cermin akhlak, pujian membahana sesaki ruang dada.
Mendengar derit meja kerja dengan segala kesibukannya.
Entah harus berapa kali aku bilang, aku bosan hingga nafasku meregang, aku jenuh sampai volume otakku penuh, sarat dengan fikir dan angan, dan yang menang…merajai segala ketidaksadaran….



{Juni 13, 2009}   kata ku…

KATA KU…

Terbata aku berucap kata
Terbata aku berharap rasa
Terbata aku membalut luka
Kian terbata sadari adanya jalan yang runcing berduri
Terbata aku menatap senja yang mewarnai mega dengan jingga
Terbata aku hngga sukar ucap kata
Rasa yang menghilangkan kesan suka
Hingga malam merayap pelan dan mentari perlahan menghilang
Masih terbata aku saat alam berisik
Masih belajar aku ucapkan kata-kata
Hingga suatu saat keyakinanku kan nyata
Dan kata patah-patah itu pun benar adanya.



{Juni 12, 2009}   aishiteru,pangeranku

Kesturi mungkin saja kehilangan wanginya, mawar mungkin saja kehilangan warnanya, namun di luar jangkauan orang yang mencinta untuk mengingkari cintanya kepada sang kekasih.
Bagaimana dapat mencegah hujan, pabila tlah ada mendung,?
Bagaimana mencegah jatuhnya daun, pabila angin tlah bertiup?
Dan bagaimanakah seorang aku dapat mencegah hadirnya cinta, pabila tlah ada kamu dalam pandang mataku?
Sekali teratai disapu oleh hangatnya sinar mentari, adakah ia bersedia membagi perhatiannya untuk rembulan?
Pabila jiwa ini haus akan jernihnya air, perlukah manisnya ranum gula?
Dan pabila sluruh pendangan tlah terfokus pada satu titik, apakah ia dapat berpaling dan beranjak dari tempatnya?
Jika dihati ini hanya ada kamu, apakah dapat aku memandang lurus ke depan tanpa melihat kamu dalam langkahku?
Bagaimana dapat kuingkari cinta, pabila sejauh pandangan mata, hanya ada bayangmu yang meraja?
ah, selalu saja aku…
Harapkan cinta yang berlalu dan bahagia yang terlalu ambigu…



{Mei 13, 2009}   satu kata tentang cinta

Cinta…
Ia bagaikan bunga yang bersemi kala musim, indah dan menawan, melambangkan keanggunan, kecantikan dan kelembutan, warnanya mempesona, namun tetap ia hanya bertahan semusim. Pada musim berikutnya, ia layu dan gugur, namun kan kembali tumbuh tetapi tak abadi.
Keabadian…
Aku melihat eidelweys sebagai lambang keabadian, kadang kulihat cinta serupa dengan bunga gunung itu, ia tersembunyi namun kekal abadi. Ia indah menebar wangi serta janjikan abadi.
Kadang kupikir cinta ini…bisa seperti Adelweys. Aku tak berharap banyak, hanya ingin menatap pada satu hati yang terjaga, menyerahkan jiwa dan raga pada orang terpercaya, bersama menapaki dunia hingga ajal tak dapat disangkal.
Smoga…



et cetera