Tokied4airi’s Blog











Oleh:
Aini Shofwatil Lamma’ah (08.21.00004)
Muthi’atin Nisa’(08.21. 00050)

PENDAHULUAN
Ada beberapa hal yang dilakukan oleh para ulama untuk menetapkan hukum setelah wafatnya Nabi, seiring dengan semakin berkembang dan kompleknya permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat islam. Dibutuhkan cara penetapan hukum yang dapat membawa kepada kemaslahatan ummat yang menjadi tujuan pokok dri syariat islam ketika pemecahan permasalahan ummat tersebut tidak terdapat dalam nash yang telah ada, sehingga para ulama berijtihad untuk mencapai suatu titik temu. Ada beberapa cara yang mereka lakukan sehingga mendapat suatu garis besar yang membawa pada kaidah hukum fikih yang dirasa sesuai dengan konteks masyarakat pada masanya. Upaya penetapan hukum yang digunakan oleh setiap ulama adakalanya berbeda atau sama, ulama sependapat bahwa ijma’ dan qiyas dapat dijadikan hujjah setelah al-Qur’an dan hadits nabi, tetapi ada beberapa perbedaan pendapat tentang upaya hujjah yang lain, seperti istikhsan , maslahah mursalah, ‘urf, syar’u man qablana, qaul as shahabi dan dzari’ah. pada makalah kali ini, akan lebih terfokus pada upaya istinbath hukum menggunakan ‘urf dan dzari’ah.
Ada beberapa permasalahan yang timbul sehubungan dengan bagaimana ulama menggunakan ‘urf dan dzara’I dalam berhujjah? dan bagaimana pendapat-pendapat yang ada di kalangan ulama ushul fiqh sehubungan dengan pengistinbath-an hukum menggunakan ‘urf dan dzari’ah?
PEMBAHASAN
‘URF
‘urf berasal dari kata ‘arafa yang berarti diketahui atau ‘urfu Yang artinya sesuatu yang baik. Secara etimologi, ‘urf berarti sesuatu yang dipandang baik dan dpat diterima oleh akal yang sehat. Ada pula yang mendefinisikan ‘urf sebagai kebiasaan yang berlaku dalam perkataan , perbuatan dan dipandang baik serta diterima oleh akal .
مااعتداه الناس وسارو اليه من كلفعل شاع بينهم او لفظ تعارفوا اطلاقه على معنى خاص لا تالفه اللغة ولا يتبادر غيره عند سماعه
Ada beberapa ulama yang menyamakan antar ‘urf dan adat yang merupakan kebiasaan dari masyarakat, akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ‘urf berbeda dengan adat karena adat didefinisikan sebagai kegiartan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya upaya perasionalan kegiatan tersebut , cakupannya pun lebih luas daripada ‘urf. Karena adat dapat menyangkut pada hal-hal atau permasalahan pribadi , permasalahan orang banyak, dapat disebabkan oleh factor alam atau hawa nafsu. Hal ini berbeda dengan definisi urf yang didalamnya ada upaya perasionalan yang cakupannya terbatas pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak pada suatu adaerah tertentu dan hanya muncul dari suatu pemikiran dan pengalaman manusia. Dari pertimbangan di atas, maka yang digunakan sebagai hujjah oleh para ulama’ ushul ialah ‘urf bukan adat.
PEMBAGIAN ‘URF
Dari pengertian diataas, dapat di tarik kesimpulan bahwa urf terbagi menjadi beberapa macam, dilihat dari beberapa sisi, diantaranya adalah:
1. Menurut obyeknya, urf dibagi menjadi:
a. Urf lafdzi, yaitu kebiasaan sekelompok masyarakat untuk mengunakan lafadz tertentu dalam mengungkapkan sesuatu sehingga maknanya dapat dipahami oleh masyarakat tersebut.
b. Urf amaly, adalah kebiasaan suatu kelompok masyarakat untuk melakukan pekerjaan biasa yang tidak terkait dengan orang lain dan terkait dengan muamalah keperdataan yang menyangkut tentang kebiasaan masayarakat untuk bertransaksi dengan cara tertentu .
2. Dilihat dari ruang lingkupnya, urf terbagi menjadi:
a. Urf al- ‘am, yakni kebiasaan tertentu yang berlaku dalam seluruh masyarakat dan daerah yang telah menjadi mafhum oleh seluruh masyarakat.
b. Urf khas, yakni kebiasaan yang hanya berlaku pada sekelompok masyarakat tertentu, sehingga memungkinkan masayakat yang lainnya tidak memahami kebiasaan tersebut.
3. Menurut keshashihannya, terbagi menjadi:
a. ‘urf shahih, yakni urf yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan dalil dan nash al qur’an dan hadits .
b. ‘urf fasid, yakni urf yang berlaku pada suatu masyarakat yang bertentangan dengan dalil dan nas h Al-Qur’an dan hadits
SYARAT-SYARAT URF
Sebagai sumber penetapan hukum oleh para mujtahid serta pemutusan suatu perkara oleh seorang hakim , maka ‘urf yang dimaksudkan harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. ‘urf tersebut tidak boleh bertentangan dengan nash qath’I, sehingga tidak diperbolehkan menggunakan ‘urf fasid untuk menetapkan hukum.
Adapun apabila ‘urf bertentangan dengan dalil yang bersifat dhanny, maka ‘urf berfungsi sebagai takhsis dari dalil dhanny tersebut.
b. Harus berupa ‘urf ‘am yang berlaku pada semua peristiwa yang telah terjadi.
c. Berlaku sepanjang masa, artinya berlaku selamanya. Karena para fuqaha berkata bahwa ‘urf yang baru berlaku, tidak dibenarkan .
PENDAPAT ULAMA-ULAMA TENTANG ‘URF
Ada beberapa perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan para fuqaha’ sehubungan dengan penggunaan ‘urf sebagai sumber hukum, sehingga para fuqaha mempunyai pendapat tersendiri tentang kehujjahan ‘urf, diantaranya adalah:
1. Golongan yang menggunakan ‘urf sebagai hujjah, dengan berdasarkan pada firman Allah surat Al-A’raf ayat 199, ayat ini merupakan perintah yang berasaal dari Allah dengan sighat ‘am, artinya ‘urf dapat digunakan sebagai dalil hukum syara’. merekalah yang mengatakan bahwa ‘urf merupakan kebiasaan manusia yang mencakup berbagai hal yang baik. Sehingga dapat menggunakan ‘urf sebagai hujjah, karena segala sesuatu yang dianggap baik oleh ummat-Nya, maka ia baik bagi Allah SWT. Yang termasuk dalam golongan ini adalah para ulama hanafiyah dan malikiyah.
2. Golongan yang tidak menganggap ‘urf sebagai hujjah dikarenakan ada begitu banyak ‘urf yang berlaku dalam berbagai masyarakat, sehingga sangat sulit untuk menentukan hukum dari ‘urf, yang termasuk di dalamnya adalah para ulama’ Syafi’iyyah dan Hanabilah.
Akan tetapi ulama’ ushul fiqih sepakat bahwa hukum yang didasarkan pada ‘urf dapat berubah sesuai perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. ‘urf yang disepakati oleh para ulama adalah urf sahih yang umum dan berlaku sejak masa sahabat hingga setelahnya yang tidak bertentangan dengan nash syar’I dan tidak juga bertentangan dengan qaidah dasar.
PENETAPAN HUKUM DENGAN URF
Urf dapat dijadikan hujjah ketika tidak ditemukan suatu dalil dari nash. Dari sini, ditetapkan beberapa kaidah fiqih sehubungan dengan berbagai kasus yang telah terjadi, yang paling mendasar, beberapa di antaranya adalah :
1. Kaidah yang berbunyi “العادة المحكمة”.
“ Adat kebiasaan itu dapat menjadi suatu hukum”.
2. Kaidah “ لا ينكر تغير الاحكام بتغير لازمنةوالامكنة “
“ tidak ada pengingkaran hukum yang disebabkan oleh perubahan zaman dan tempat”
3. Kaidah “ المعروف عرفا كالمشروط شرطا”
“Segala sesuatu yang baik dapat menjadi ‘urf seperti halnya hal yang disyaratkan dapat menjadi syarat”.
4. Kaidah “ الثابت بالعرف كالثانت بالنص”
“Hal yang ditetapkan dengan ‘urf, hukumnya sama dengan yang telah ditetapkan melalui nash”
DZARI’AH
Dzari’ah sama dengan wasilah yang berarti jalan menuju sesuatu, atau perantara kepada sesuatu. menurut ulama ushul, dzari’ah disini diartikan sebagai perantara yang mengantarkan kepada hal-hal yang diharamkan atau diperbolehkan.
Dalam penetapan suatu hokum, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni:
1. Maqashid atau sasaran yang menjadi tujuan utama suatu hal, apakah ia mafsadah ataukah maslahah.
2. Wasilah, aytau perantara yang menunjukkan kepada maqashid yang sesunnguhnya.
Dalam hal ini, dzari’ah sebagai wasilah sehingga hokumnya sama dengan hokum yang menjadii maksudnya. Apabila maksud yang ingin dicapai adalah baik, maka dzari’ahnya juga baik, begitu halnya apabila tujuannya buruk, maka dzari’ahnya juga buruk.
MACAM-MACAM DZARI’AH
Ditinjau dari akibat yang ditimbulkan, maka dzari’ah dapat terbagi menjadi:
a. Menurut jenisnya dapat terbagi menjadi:
a) Jika tujuannya memerintahkan atau menganjurkan pada hal-hal yang mubah, sunnah atau bahkan wajib, maka pintu dzari’ah haruslah dibuka agar tercipta suatu kemaslahatan, disebut dengan fathu dzari’ah.
b) Jika dzari’ah tersebut dapat menimbulkan suatu mafsadah atau kerusakan, maka pintu dzari’ah harus di tutup, sehingga mencegah terjadinya mafsadah, disebut dengan saddud dzari’ah. Yang dimaksudkan sebagai saddud dzari’ah disini adalah berbagai upaya untuk mencegah segala hal yang dapat memicu terjadinya kerusakan atau kemudharatan.
b. Menurut kadar kekuatan akibat yang ditimbulkan:
a) Dzari’ah yang berimp[likasi kuat unmtuk menimbulkan suatu kerusakan secara pasti.
b) Dzari’ah yang jarang menimbulkan kerusakan.
c) Dzari’ah yang dapat menimbulkan kerusakan menurut dugaan (dhann) meski jarang terjadi.
d) Dzari’ah yang banyak menimbulkan kerusakan.
PENDAPAT ULAMA TENTANG SADDUD DZARI’AH
Penetapan saddud dzari’ah sebagai hujjah sangat kontroversial dikalangan para ulama’ ushul fiqh, diantaranya adalah:
1. Imam malik dan imam Ibnu Hanbal, yang mengatakan bahwa saddud dzari’ah sama dengan maslahah mursalah dan ‘urf, yakni dapat dijadikan hujjah.
2. Imam Ibnu Qayyum yang menegaskan bahwa dalam saddud dzari’ah terdapat amar dan nahi dan ia merupakan ¼ urusan agama.
3. Ulama’ hanafiyyah, syafi’iyyah dan Syi’ah, mereka terkadang menggunakan saddud dzari’ah sebagai hujjah dalam masalah-masalah tertentu. Mereka berpendapat bahwa dalam menggunakan saddud dzari’ah, tidak boleh berlebihan, dikhawatrirkan dapat melarang hal-hal yang mubah, sunnah bahkan wajib hanya karena takut dzalim. Dan mereka juga mengataakan bahwa dzari’ah ini telah masuk dalam ikhtikhsan dan qiyas.
PENETAPAN HUKUM MENGGUNAKAN DZARI’AH
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan hukum menggunakan dzari’ah, yakni:
1. Izin yang merupakan hukum asal, yakni jika mendapat izin dari pihak yang bersangkutan, maka hal tersebut diperbolehkan untuk dikerjakan.
2. Madzarat dan manfaatnya, yakni apabila hal tersebut bermanfaat, maka boleh dikerjakan, namun apabila beresiko menuju kemadharatan, maka hal tersebut dilarang untuk dilakukan.
Diantara keduanya, para ulama sepakat untuk menitik beratkan pada aspek manfaat dan madharatnya, bukan pada masalah perijinannya.karena adanya kaidah yang berbunyi menghindari madharat harus lebih didahulukan dareipada menarik manfaat.
Dzari’ah tersebut sangat tergantung pada nash qath’y, sehingga apabila dalam nash ia dapat menimbulkan kerusakan, maka ia dijadikan pegangan. Sedangkan apabila ia diperbolehkan, maka ia menjadi qiyas. Namun penggunaan dzari’ah ini terbatas. Yakni hal-hal yang berhubungan dengan amanat tidak boleh menggunakan dzari’ah karena dapat menimbulkan khianat. Maka dari itu, penggunaan dzari’ah ini harus diketahui dengan benar oleh mukallaf sehingga dapat meninggalkan atau menggunakan dzari’ah pada masa yang tepat dengan menarjih dan mengambil yang rajih.
KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam istinbath hukum, ulama juga menggunakan ‘urf dan dzari’ah sebagai sumber hujjah, ‘urf dapoat dijadikan hujjah apabila telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, yakni ‘am, sahih, berlaku pada masa sahabat hinnga sekarang dan tidak bertentangan dengan nash yang ada serta qaidah dasar islam.sedangkan dzari’ah dibuka apabila perantara tersebut sesuai dengan nash dan ditutup apabila bertentangan dengan nash.
Adapun tentang pendapat keempat imam madzhab dapat dilihat dalam table dibawah.
No. Tentang Hanafiyah Malikiyah Syafi’iyah Hanabilah
1. ‘Urf Menggunakan sebagai hujjah Menggunakan ‘urf sebagai hujjah ‘’urf tidak dapat dijadikan hujjah ‘urf tidk dapat dijadikan hujjah
2. Dzari’ah Jarang menggunakannya sebagai hujjah Menjadikan hujjah Jarang menggunakannya sebagai hujjah Menjadikan hujjah

DAFTAR PUSTAKA
Abu Zahrah, Muhammad, Ushul Fiqih ,terj: Saefullah Ma’shum, Jakarta: PT. Pustakla Firdaus, 2000.
Azzakhily, Wahbah, Ushul Al Fiqh Al islamy, Beirut: Dar al Fikr Al mA’a shir, 1986 Cet. I, Juz. II.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh Jeddah: Al haramain, 2004, Cet. III.
Syukur,M. Asywadie, Pengantar Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990.
Umam, Chaerul, Ushul Fiqh 1 untuk Fakultas Syari’ah Komponen MKDK, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000.



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: